Senin, 21 Januari 2019

Aku Pergi

Aku Pergi
By. Novita Dwi Puspita

Di tengah keramaian ini aku merasakan kesepian.. Ingin sekali lari sejauh mungkin, pergi jauh meninggalkan tempat ini.. Lihatlah air hujan itu, ia terus menerus jatuh tanpa memikirkan rasa sakitnya.. Aku tak ingin seperti air hujan, karena ia tak mempedulikan dirinya.. Tetapi, air hujan itu sangat baik hati.. Walaupun ia jatuh berkali-kali tetapi ia rela melakukannya demi penduduk bumi.. Apakah aku harus menjadi air hujan? Aku takkan sanggup.

Diriku cepat sekali rapuh, sekali ku terjatuh aku bisa bangun.. Dua kali terjatuh aku masih bisa bangun.. Jika sudah ketiga kalinya aku terjatuh, tolong bantu aku.. Aku sudah tidak sanggup lagi.. Semuanya telah pergi, tinggal aku sendiri.. Sekarang sudah tak ada yg membangunkanku lagi.. Aku harus belajar sendiri..

Mereka telah pergi jauh, aku ingin ikut.. Tapi untuk apa? Aku tak berguna bagi mereka.. Sepi, tak seperti dulu.. Mengapa kalian pergi meninggalkanku sendiri disini? Satu per satu kalian pergi tanpa kabar, menghilang begitu saja.. Aku tidak bisa mempertahankannya, berat sekali.. Saat ini, aku yang akan pergi.. Tapi meninggalkan siapa? Semuanya sudah pergi.. Bahkan ada dia yang datang, dan dia pula yang pergi meninggalkan ku.. Ah sudahlah, kehidupan ini menyebalkan

Sukoharjo, 21/01/2019

Kamis, 03 Januari 2019

Luka yang Hadir

Kata orang, hati itu tidak pernah berbohong. Apa itu benar? Ah hatiku sedang kacau. Aku ingin sekali memperbaikinya. Jika hati ini kacau, aku merasa sangat tak nyaman. Aku bingung terkadang kau muncul secara tiba-tiba kemudian menghilang, lalu muncul lagi dan terus menghilang, dan terus seperti itu. Lalu kau mencari tau kabarku lewat temanku, untuk apa? Setelah itu menghilang lagi. Aku tak bisa memahami maksudmu, aku ingin pergi saja. Sebenarnya untuk apa? Aku bukan tempat singgah yang mudah saja menerima tamu. Kau datang mencuri hatiku, kemudian tidak kau kembalikan lagi. Jika hanya ingin bertamu jangan kau curi yang bukan menjadi hakmu. Mungkin aku terlalu mudah percaya padamu, hingga tak sadar secara perlahan kau ambil hatiku. Berapa banyak tempat yang sudah kau singgahi? Apa mereka bernasib sama sepertiku? Mungkin iya... Tak ku sangka kau bisa berbuat seperti itu, kini hatiku telah kacau. Ntahlah sangat sulit jika dijelaskan. Aku semakin bingung ketika tempat lama yang telah kau singgahi bertamu padaku. Aku terlalu bodoh dalam menerima tamu, tak tahu bagaimana memperlakukannya.

Iman pembeda seorang Hamba

Karantina Tahfidz Qur'an
By. Novita Dwi Puspita

Aku malu.
Disini aku bisa membandingkan diriku yang sebenarnya.
Aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Mereka begitu mulia diusianya yang belia.
Berbeda sangat jauh sekali dengan diriku, tidak ada apa-apanya.
Seperti selembar kertas putih yang bersih tanpa goresan tinta, tidak ada isinya.

Ya Allah aku malu.
Kuatkanlah hamba-Mu yang penuh dosa ini.
Mudahkanlah hamba dalam beramal baik, menabung untuk bekal akhirat kelak.
Aku sangat menyayangi keluargaku.
Aku ingin membawanya ke Jannah-Mu.
Ya Allah izinkan aku masuk ke Jannah-Mu bersama keluargaku.

Kumpulkan aku bersama wanita-wanita shalihah pilihan-Mu, sehingga aku bisa belajar bersama mereka.
Aku ingin belajar bersama-sama, tolong jangan biarkan aku sendiri. Aku tak bisa sendirian.
Rangkul diriku dan ajak aku bersamamu ke Taman yang didalamnya terdapat sungai yang mengalir.

Pedepokan Lir Ilir, Karangpandan.
23-28 Desember 2018